Blogger Widgets

Thursday, January 1, 2015

Laporan Observasi Rumah Kompos Pendidikan Lingkungan Hidup


 

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
PENGOLAHAN SAMPAH DI RUMAH KOMPOS UNNES
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup
Dosen Pengampu Dra Nur Kusuma Dewi, M.Si.
Disusun oleh:
Kelompok 2, Rombel 48
1.      Arif Khalilu Rahman     (1301413097)
2.      Fildzah Syarafina            (1301413103)
3.      Gilar Haris Oktavianto   (2201413068)
4.      Septiana Ika Wardani    (3301413059)
5.      Utari Pangestuti              (3301413106)
6.      Mentari Setiawati            (4401412079)
 
 
 
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
KATA PENGANTAR
 
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan observasi pendidikan lingkungan hidup di “Rumah Kompos” UNNES. Laporan  ini penulis ajukan untuk membahas mengenai hasil observasi kami yang telah di laksanakan. Penulisan laporan ini tidak terlepas dari peran pihak-pihak yang telah membantu. Untuk itu, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:
1.      Dra Nur Kusuma Dewi, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup.
2.      Bapak Budi dan Kak Siswoyo yang telah menjadi  narasumber dalam observasi kami.
3.      Semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.
 
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan penyusunan selanjutnya.
 
 
 
Semarang, 28 November 2014
 
 
 
Penulis
 
 
DAFTAR ISI
 
HALAMAN JUDUL.................................................................................    i
KATA PENGANTAR...............................................................................    ii
DAFTAR ISI..............................................................................................    iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................    v
1.1.Latar Belakang...............................................................................     v
1.2.Rumusan Masalah..........................................................................     v
1.3.Tujuan............................................................................................     vi
BAB II KAJIAN PUSTAKA...................................................................     1
2.1. Unnes sebagai Universitas Konservasi..........................................    1
2.2. Upaya Konservasi..........................................................................    2
2.3. Sampah..........................................................................................    3
2.4. Composting...................................................................................     5
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................    7
3.1. Metode..........................................................................................     7
3.2. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan.....................................................    7
3.3. Alat dan Bahan Penelitian.............................................................    7
3.4. Prosedur Penelitian........................................................................    7
BAB IV PEMBAHASAN.........................................................................    9
      4.1. Rumah Kompos............................................................................     9
      4.2. Pengolahan Sampah di Rumah Kompos......................................      11
BAB V PENUTUP....................................................................................    14
      5.1. Kesimpulan..................................................................................      14
      5.2. Saran...........................................................................................       14
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................       16
LAMPIRAN...........................................................................................        17
 
 
 
 
BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Sampah merupakan masalah besar di Indonesia dari dahulu hingga kini. Selama ini sampah hanya dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu. Sehingga sampah banyak menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, sampah dapat bernilai ekonomis apabila dikelola/diolah dengan baik. Misal, sampah plastik dari sisa bungkus detergen dapat diolah menjadi tas, sandal dan aksesoris lainya. Tidak hanya sampah anorganik seperti plastik namun sampah organik seperti daun pun dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis seperti pupuk kompos misalnya.

 Universitas Negeri Semarang juga tidak terlepas dari masalah sampah. Tiap harinya UNNES banyak menghasilkan sampah dalam jumlah besar, sampah tersebut terdiri atas sampah organik dan sampah anorganik. Sampah yang paling dominan dihasilkan adalah sampah daun karena seperti yang kita ketahui bahwa kawasan UNNES banyak ditumbuhi pohon rindang yang mengahasilkan sampah daun setiap harinya.

Universitas Negeri Semarang merupakan Universitas Konservasi yang memiliki tujuh pilar konservasi salah satu diantaranya adalah waste management. Pilar tersebut diwujudkan salah satunya dengan membangun Rumah Kompos. Untuk dapat mengetahui lebih lanjut mengenai Rumah Kompos dan pengolahan sampahnya, maka dilakukanlah observasi ini.

 

1.2              Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud dengan “Rumah Kompos” ?

2.      Bagaimana pengolahan sampah di “Rumah Kompos” ?

 

1.3              Tujuan

1.      Mengetahui tentang “Rumah Kompos”.

2.       Mengetahui pengolahan sampah di “Rumah Kompos”.



BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1       UNNES sebagai Universitas Konservasi

 

Universitas Negeri Semarang (UNNES) adalah salah satu Universitas di indonesia yang menyandang predikat sebagai Universitas Konservasi. Konservasi merupakan bagian dari visi Unnes yaitu Universitas Konservasi yang bertaraf Internasional yang sehat,unggul dan sejahtera. Setelah Unnes diresmikan sebagai Universitas Konservasi pada 12 Maret 2010 oleh Menteri Pendidikan Nasional, Muhamad Nuh. Dengan diresmikan sebagai Universitas konservasi oleh Menteri Pendidikan Nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh warga Unnes.
            Secara geografis, Unnes terletak di daerah pegunungan dengan topografi yang beragam dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) baik flora maupun fauna yang relatif tinggi. Dengan itu, kita sebagai warga Kampus UNNES harus memaksimalkan kondisi alam yang ada atau lingkungan yang dapat dikatakan dengan istilah ijo royo royo tersebut.      
            Jauh sebelum dideklarasikan sebagai Universitas Konservasi, Unnes sudah membiasakan diri dengan program penghijauan. Banyak ribuan batang  atau lebih sudah ditanam dikampus sekaran sejak 2005. Kawasan Unnes sekarang menjadi kawasan kampus yang paling hijau setelah kampus Depok UI. Pencapaian ini bukan tanpa masalah,s ebab persoalan lingkungan tidak dapat diatasi semata-mata dengan konservasi, dalam pengertian paling luas sekalipun. Unnes menetapkan gagasan Konservasi tak terbatas, bukan hanya gerakan penghijauan yang bersifat fisik melainkan juga di bidang kebudayaan.         
            Dengan dideklarasi  sebagai Universitas Konservasi, Unnes bertekad untuk selalu menjunjung tinggi prinsip perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan secara lestari terhadap sumber daya alam dan budaya luhur bangsa. Unnes juga menempatkan konservasi sebagai wujud tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.


2.2       Upaya Konservasi

Upaya yang di lakukan Universitas Negeri Semarang untuk menjadi Universitas Konservasi di antaranya:           
1.    Terkait dengan Upaya Konservasi Alam:

·         Membuat kebijakan penanaman pohon (Go Green).

·         Membuat kebijakan bebas polusi (Free Pollution) dengan Parkir Terpadunya.

·         Melakukan program Mendaur ulang sampah (Recycle) serta membuat sampah Organik.

·         Pengembangan Listrik Tenaga  Surya di lingkungan kampus.

·         Pelestarian Kupu-kupu dengan membuat taman kupu-kupu dll.
    Tujuannya yaitu agar alam sekitar tetap terlihat hidup di tengah perkembangan zaman, dan untuk membuat lingkungan tetap terjaga tentunya serta membuat suasanya kampus menjadi Back To Nature.


2.    Terkait dengan Upaya konservasi Seni dan Budaya Universitas Negeri Semarang membuat Pagelaran Budaya:

·         Monolog Berbahasa Jawa.

·         CongKestra/Keroncong Orkestra.

·          Seni Tari Tradisional.

·         Sinden Idol dimana di adakan sebuah kontes menyinden dan pesertanya pun bukan hanya mahasiswa namun masyarakat luar dipersilahkan unjuk kebolehan.

·         Mengadakan Festival Batik dan Jajanan tradisional.
tujuannya yaitu agar kebudayaan Indonesia tetap terjaga dan lestari untuk generasi selanjutnya pun bisa menikmati.


3.    Terkait dengan Upaya Konservasi Moral

            Unnes dengan Bidang pendidikan menyelenggarakan pendidikan yang tujuannya mendidik dan memberi pengajaran tentang moral-moral melalui pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Agama. Serta di bawah naungan Bidang Pendidikan Unnes membuat organisasi Keagamaan salah satu pelaksanaanya yaitu mentoring. Disana disediakan mentor-mentor yang terdiri dari mahasiswa senior yang sudah berpengalan kemudian membagi ilmu kepada Adik-adik yang lebih junior terkait dengan pengetahuan keagamaan dalam agama masing-masing.

 

2.3       Sampah

Permasalahan lingkungan saat ini ada di berbagai tempat. Permasalahan itu menyangkut pencemaran, baik pencemaran tanah, air, udara, dan suara. Pencemaran tersebut diakibatkan oleh aktivitas manusia. Pencemaran tanah misalnya, banyaknya sampah yang tertimbun di tempat sampah. apabila tidak ditangaini dengan baik akan menurunkan tingkat kesehatan masyarkat. Sampah adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomi (E. Colink,996). Menurut kamus istilah lingkungan hidup, sampah mempunyai definisi sebagai bahan yang tidak mempunyai nilai, bahan yang tidak berharga untuk maksud biasa, pemakaian bahan rusak, barang yang cacat dalam pembikinan manufaktur, materi berkelebihan, atau bahan yang ditolak.

Menurut Slamet (1994) sampah jika ditinjau dari segi jenisnya diantaranya yaitu:

1.    Sampah yang dapat membusuk atau sampah basah (garbage). Garbage adalah sampah yang mudah membusuk karena aktifitas mikroorganisme pembusuk.

2.    Sampah yang tidak membusuk atau sampah kering (refuse). Sampah jenis ini tidak dapat didegradasikan oleh mikroorganisme, dan penanganannya membutuhkan teknik yang khusus. Contoh sampah jenis ini adalah ketas, plastik, dan kaca,

3.    Sampah yang berupa debu atau abu. Sampah jenis ini biasanya hasil dari proses pembakaran. Ukuran sampah ini relatif kecil yaitu kurang dari 10 mikron dan dapat memasuki saluran pernafasan.

4.    Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan Sampah jenis ini sering disebut sampah B3, dikatakan berbahaya karena berdasarkan jumlahnya atau konsentrasinya atau karena sifat kimiawi atau fisika atau mikrobanya dapat:

a. Meningkatkan mortalitas dan mobilitas secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang tidak reversibel ataupun sakit berat tidak dapat pulih ataupun reversibel atau yang dapat pulih.

b. Berpotensi menimbulkan bahaya pada saat ini maupun dimasa yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah, ditransport, disimpan dan dibuang dengan baik. Sampah yang masuk dalam tipe ini tergolong sampah yang beresiko menimbulkan keracunan baik manusia maupun fauna dan flora di lingkungan tersebut.

Sedangkan Hadiwiyono, (1983) mengelompokkan sampah berdasarkan dua karakteristik, yaitu:

1. Kimia

a.     Organik

Sampah yang mengandung senyawa organik atau sampah yang tersusun dari unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan pospor.

b.    Anorganik

Sampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, jika bisapun membutuhkan waktu yang sangat lama.

2. Fisika

a.    Sampah basah (garbage)

Garbage tersusun dari sisa-sisa bahan-bahan organik yang mudah lapuk dan membusuk.

b.    Sampah kering (rubbish)

Sampah kering dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu jenis logam seperti besi, seng, aluminium dan jenis non logam seperti kertas dan kayu.

c.    Sampah lembut

Sampah lembut memiliki ciri khusus yaitu berupa partikel-partikel kecil yang ringan dan mudah terbawa oleh angin.

d.    Sampah besar (bulkywaste)

Sampah jenis ini memiliki ukuran yang relatif lebih besar, contohnya sampah bekas mesin kendaraan.

e.    Sampah berbahaya (hazardous waste)

Sampah jenis ini terdiri dari sampah patogen (biasanya sampah jenis ini berasal dari kegiatan medis), sampah beracun (contoh sampah sisa pestisida, isektisida, obat-obatan, sterofom), sampah ledakan, misiu, sisa bom dan lain-lain, serta sampah radioaktif dan bahan-bahan nuklir.

 

Berdasarkan sifat pokoknya, sampah dibagi menjadi dua yaitu :

1. Degradabel yaitu sampah yang mudah diuraikan oleh jasad hidup atau mikroorganisme.

2. Non degradabel adalah sampah secara alami sukar diuraikan.

 

2.4       Composting

Pemusnahan sampah dengan cara proses dekomposisi zat organik oleh kuman-kuman pembusuk pada kondisi tertentu. Proses ini menghasilkan bahan berupa kompos atau pupuk hijau. Berikut tahap-tahap di dalam pembuatan kompos:

1. Pemisahan benda-benda yang tidak dipakai sebagai pupuk seperti gelas, kaleng, besi dan sebagainya.

2. Penghancuran sampah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil (minimal berukuran 5 cm)

3. Penyampuran sampah dengan memperhatikan kadar karbon dan nitrogen yang paling baik (C:N=1:30)

4. Penempatan sampah dalam galian tanah yang tidak begitu dalam. Sampah dibiarkan terbuka agar terjadi proses aerobik.

5. Pembolak-balikan sampah 4-5 kali selama 15-21 hari agar pupuk dapat terbentuk dengan baik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

        3.1       Metode

Informasi didapatkan melalui metode:

1.        Wawancara (Interview)

Observasi ini dilakukan dengan cara wawancara (interview). Penulis mengajukan pertanyaan kepada pengelola Rumah Kompos terkait dengan pengelolaan sampah yang dilakukan di Rumah Kompos.

2.        Studi Pustaka

Informasi-infromasi yang dibutuhkan didapatkan melalui pustaka berupa jurnal ilmiah, buku teks, dan website sebagai penunjang dalam memperoleh data yang lengkap.

3.        Pengamatan langsung

Informasi berupa foto didapatkan melalui pengamatan secara langsung (observasi) di Rumah Kompos.

3.2              Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Tempat                             : Rumah Kompos UNNES

Waktu Pelaksanaan          : 28 November 2014

3.3              Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang kami perlukan selama observasi di antaranya alat tulis, daftar pertanyaan wawancara, dan kamera.

3.4              Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengumpulan data.

1.    Tahap Persiapan

Menyiapkan segala sesuatu yang menunjang diadakannya observasi seperti lembar wawancara, dan alat untuk mendokumentasikan kegiatan dan peralatan untuk mengelola sampah yang ada di Rumah Kompos.

2.    Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan utama yaitu pada pengamatan dan wawancara.

a.    Pengamatan

Mengamati kegiatan pelatihan yang sedang berlangsung, yaitu pelatihan pembuatan pupuk kompos.

b.    Wawancara

Melakukan wawancara kepada pengelola Rumah Kompos, Mas Siswoyo terkait dengan pengelolaan sampah di Rumah Kompos.

3.    Tahap Pengumpulan Data

Data observasi diperoleh dari :

a.    Hasil pengamatan dan wawancara dengan pengelola Rumah Kompos mengenai pengelolaan sampah.

b.    Hasil dokumentasi yang dilakukan selama proses observasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1       Rumah Kompos

            Rumah Kompos merupakan perwujudan salah satu pilar konservasi UNNES yaitu waste management. Rumah Kompos didirikan pada tahun 2010, diprakarsai oleh dosen Kimia beserta mahasiswinya Eli Dwi Astuti, S.Si. pada saat itu. Pembuatan rumah kompos ini bermula dari keprihatinan akan kurangnya pengolahan sampah yang melimpah di unnes. Kemudian dibangunlah Rumah Kompos dengan merangkul mahasiswa untuk selanjutnya mengelola Rumah Kompos secara bersama-sama. Tujuan awal berdirinya Rumah Kompos ada 4 yaitu untuk pendidikan, pengabdian, penelitian dan pengolahan. Sedangkan tujuan utamanya adalah untuk membangun kesadaran akan pengolahan sampah, bahwa sampah memiliki manfaat dan dapat bernilai ekonomis apabila dikelola dengan baik.

            Rumah Kompos terletak di sebelah rusunawa putra UNNES. Setiap minggunya, Rumah Kompos menerima satu tossa sampah yang kebanyakan didominasi oleh sampah daun. Sampah daun tersebut kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Hasil produksi kompos saat ini sudah diperjual-belikan karena pupuk kompos yang diproduksi di Rumah Kompos sudah lolos uji mutu, sehingga layak untuk di komersilkan. Namun distribusi pemasaranya masih sebatas di UNNES saja. Hasil produksi kompos saat ini hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan pupuk kompos dalam UNNES saja. Hal tersebut dikarenakan karena adanya kendala pada keterbatasan alat-alat untuk membuat pupuk kompos. Serta kondisi Rumah Kompos yang terbilang sempit sehingga belum bisa menampung sampah daun dalam jumlah lebih banyak.

            Berdasarkan permasalahan tersebut maka untuk meningkatkan operasional, Rumah Kompos membuka pelatihan pengolahan sampah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair yang ditujukan untuk semua mahasiswa yang mengampu mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup. Mereka yang ingin mengikuti pelatihan kompos ini harus membayar biaya administrasi sebesar Rp 350.000,00 tiap kelompok dengan anggota kelompok 20 orang. Biaya administrasi tersebut yang nantinya digunakan untuk biaya operasional Rumah Kompos. Dalam pelatihan tersebut mahasiswa diajak untuk turut serta dalam praktik langsung dalam pembuatan pupuk kompos.

 Pelatihan composting kepada mahasiswa Pendidikan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Semarang ini bertujuan agar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tersebut mengetahui proses pembuatan pupuk kompos yang berasal dari sampah organik. Dengan diadakan kegiatan tersebut diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Selain itu juga dikarenakan mahasiwa Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan kader konservasi UNNES sebagai Universitas konservasi, sehingga di harapkan mahasiswa tersebut dapat memiliki kepedulian terhadap lingkungan yang lebih tinggi, dan dapat menularkan pengetahuannya kepada orang disekitarnya, sehingga ketika sudah lulus kelak mahasiswa diharapkan bisa jadi pelopor atau penggerak masyarakat di daerah asalnya untuk bersama-sama melestarikan lingkungan. Serta diharapkan pula agar mereka sadar akan pentingnya pengolahan sampah lebih lanjut guna mengurangi sampah yang kian hari semakin banyak akibat semakin banyaknya populasi yang ada. Mahasiswa UNNES sebagai kader konservasi diharapkan sadar akan pentingnya konservasi dalam berbagai hal, karena konservasi Universitas Negeri Semarang tidak akan berhasil tanpa peran serta seluruh warganya termasuk mahasiswa.      

            Rumah Kompos tidak hanya mengolah sampah organik saka melainkan juga sampah anorganik seperti plastik. Sampah plastik tersebut dapat disulap menjadi aneka kerajinan yang menarik seperti sandal, dompet, tas dan masih banyak lainya. Selain plastik, Rumah Kompos juga mengolah limbah kertas untuk dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat seperti kotak pensil, tempat tisu dan masih banyak lainya.

 

4.2       Pengolahan Sampah di Rumah Kompos

            Pengolahan sampah yang paling sering dilakukan dirumah kompos adahan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos dan pupuk cair.

Berikut adalah langkah-langkah membuat pupuk kompos dengan standard Rumah Kompos:

1.      Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan pupuk kompos

Adapun alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

a.       Alat pencacah untuk mencacah daun menjadi bagian-bagian yang lebih kecil

b.      Pengayak untuk memisahkan antara pupuk kompos yang sudah halus (jadi) dan yang masih kasar dalam proses panen

c.       Gembor untuk menyiram kompos dengan larutan EM4 setiap dua hari sekali untuk menjaga kelembaban pupuk kompos

d.      Timbangan untuk menakar komposisi bahan untuk membuat pupuk kompos

e.       Bak kompos untuk menyimpan kompos hingga panen

 

Sedangkan bahan yang diperlukan diantaranya:

a.       Sampah daun

b.      Kotoran kambing

c.       Bioaktivator (EM4)

 

2.      Menimbang daun dan kotoran kambing dengan komposisi 3:2

3.      Membuat larutan EM4 dengan melarutkan 2 tutup botol EM4 dengan 7 liter air

4.      Mencacah daun menggunakan alat pencacah hingga menjadi bagian-bagian yang lebih kecil

5.      Mencampur cacahan daun dengan kotoran kambing kemudian disiram dengan larutan EM4 supaya lembab, lembab disini adalah tidak terlihat kering dan tidak bash apabila dipegang

6.      Masukkan campuran tersebut kedalam bak kompos selama dua minggu

7.      Selama dua minggu tersebut, penyiraman EM4 dilakukan setiap dua hari sekali hingga hari ke-12 demi menjaga kelembaban kompos

8.      Setelah dua minggu penyimpanan, selanjutnya kompos diayak dengan mesin pengayak

9.      Pengepakan dan pupuk kompos produksi Rumah Kompos siap dipasarkan

 

Untuk dapat mengetahui apakah kompos sudah siap panen atau sudah jadi, dapat diperhatikan beberapa indikator sebagai berikut:

a.       Tidak berbau

b.      Warna coklat kehitaman

c.       PH netral yaitu 7

d.      Suhu setara suhu ruangan ± 27o C

e.       Kelembaban 40-50 %

 

Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pupuk kompos adalah:

a.       Pupuk kompos tidak boleh terpapar matahari secara langsung

b.      Tidak boleh terkena air hujan

c.       Pupuk kompos yang baik adalah yang mengandung atom C (karbon) dan N (nitrogen) dengan perbandingan 1:25 hingga 1:35

 

Selain dapat digunakan EM4 instan, dapat juga digunakan EM4 alami buatan sendiri. Adapun cara sederhana untuk membuat EM4 alami adalah:

1.      Menyiapkan Alat dan ahan-bahan yang diperlukan antara lain:
a. Botol bekas ukuran 1.5 lt

b.    Nasi basi ukuran sekitar 1/3 botol

c.    Gula jawa sekitar 5 sendok

d.   Air 1 liter/ secukupnya

2.      Memasukkan nasi basi ke dalam botol bekas hingga sekitar 1/3 botol

3.      Menambahkan gula jawa sekitar 5 sendok makan. Gula jawa digunakan karena asumsi bahwa gula pasir mengandung bahan kimia seperti pemutih dan sebagainya sedangkan gula jawa lebih alami tanpa campuran bahan pengawet.

4.      Menambahkan air hingga volume total 1 liter (botol penuh)

5.      Menghomogenkan larutan dengan cara mengocoknya

Bioaktivator alami siap digunakan dalam 2 minggu

Pembuatan Pupuk Cair

Pupuk cair dapat dibuat menggunakan berbagai bahan seperti sisa buah-buahan ataupun sisa sayur-sayuran. Langkahnya pun sangatlah sederhana yaitu:

1.      Sisa satur atau buah dicacah hingga menjadi bagian-bagian yang lebih kecil

2.      Hasil pencacahan dimasukkan kedalam karung kemudian di press dengan mesin pengepres hingga air sarinya keluar

3.      Setelah itu, dimasukkan kedalam botol lalu ditambahkan gula tetes tebu

4.      Campurkan dan diamkan selama 2 minggu, maka pupuk cair siap untuk digunakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1       Kesimpulan

            Rumah kompos merupakan bentuk perwujudan salah satu pilar konservasi UNNES sebagai Universitas Konservasi yaitu pilar waste management. Rumah kompos mengolah sebagian kecil sampah UNNES menjadi suatu produk yang bermanfaat seperti pupuk kompos dari sampah daun dan lain-lain, pupuk cair dari sampah sayur dan buah, kotak tisu dari sampah kertas dan dompet dari sampah plastik. Pelatihan composting diberikan kepada mahasiswa bertujuan agar mahasiswa sebagai kader konservasi sadar akan pentingnya pengolahan sampah lebih lanjut guna mengurangi sampah yang kian hari semakin banyak akibat semakin banyaknya populasi yang ada, sehingga mahasiswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan yang tinggi, dan dapat menularkan pengetahuannya kepada orang disekitarnya, sehingga ketika sudah lulus kelak mahasiswa diharapkan bisa jadi pelopor atau penggerak masyarakat di daerah asalnya untuk bersama-sama melestarikan lingkungan. Serta diharapkan pula agar mahasiswa UNNES sebagai kader konservasi sadar akan pentingnya konservasi dalam berbagai hal, karena konservasi Universitas Negeri Semarang tidak akan berhasil tanpa peran serta seluruh warganya termasuk mahasiswa.

           

5.2       Saran

            A.        Untuk pihak Badan Konservasi UNNES

Rumah Kompos perlu sokongan lebih agar dapat semakin berkembang. Alangkah baiknya apabila dilakukan perluasan Rumah kompos dan penambahan alat composting agar rumah kompos dapat lebih produktif

 

B.                 Untuk para Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Lingkungan

Hidup

Alangkah baiknya apabila menyarankan mahasiswa yang diampunya untuk mengikuti pelatihan composting di Rumah Kompos karena sanat bermanfaat serta agar para mahasiswa lebih mengenal Rumah kompos

 


DAFTAR PUSTAKA

 

E. Coling. 1986. Istilah Lingkungan Untuk Manajemen.

Hadiwiyono. 1983. Penerangan dan Pemanfaatan Sampah. Idayu: Jakarta.

Slamet, J.S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press: Jogjakarta.


LAMPIRAN
 
 

Newer Post Older Post Home

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Sudah Berkomentar Menggunakan Bahasa yang Halus