Blogger Widgets

Friday, January 2, 2015

Makalah Sistem Pendidikan Di Sekolah Dasar REGULAR




SEKOLAH DASAR REGULER

MAKALAH

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Pendidikan di SD

Dosen Pengampu : Kusnarto Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Kons


Oleh







JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014









KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini kami susun dengan sumber yang sebenar-benarnya dan dapat dipertanggung jawabkan.
Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Kusnarto Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Kons yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
            Tentu masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Baik dalam hal bahasa maupun penguasaan materi secara komprehensif. Kritik dan saran yang membangun diharapkan oleh penulis demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah yang telah kami buat dapat bermanfaat dengan baik, amin.









                                        Semarang, 16 Oktober 2014



Penulis


DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR············································································ i
DAFTAR ISI······················································································· ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang················································································· 1
1.2 Rumusan Masalah············································································· 2
1.3 Tujuan··························································································· 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Pendidikan Di SD····················································· 3
2.2 Pengertian model pembelajaran menurut para ahli······································ 3
2.3 Pengertian model pembelajaran secara umum··········································· 4
2.4 Model sistem pembelajaran SD reguler··················································· 4
2.5 Macam- macam  model pembelajaran reguler anak SD······························· 7
2.6 Tujuan pembelajaran reguler································································ 11
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan························································································ 12
3.2 Saran····························································································· 12
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem merupakan suatu strategi atau cara berfikir, sedangkan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar agar pelajar di didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya yang diperlukan di masyarakat. Jadi bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan adalah suatu strategi atau cara yang akan dipakai untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar para pelajar tersebut dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan masyarakat. Sistem pendidikan tersubut bertujuan agar guru lebih inovatif dalam proses pembelajaran reguler di kelas. Sistem pendidikan di Sekolah Dasar adalah suatu keseluruhan antara komponen-komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pendidikan dasar.Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar. Di sekolah inilah anak didik mengalami proses pendidikan dan pembelajaran. Dan, secara umum pengertian sekolah dasar dapat kita katakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dasar dan mendasari proses pendidikan selanjutnya. 
Model pembelajaran dapat dipahami sebagai suatu desain yang melukiskan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan digunakan sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Diharapkan dengan adanya model pembelajaran itu, siswa SD dapat mengembangkan gaya belajar mereka di sekolah maupun di kelas sehingga dalam proses pembelajaran reguler mereka dapt mengikutinya dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah sistem pendidikan di seolah dasar?


1.2.2 Bagaimanakah model pembelajaran menurut para ahli?
1.2.3 Bagaimanakah model pembelajaran secara umum ?
1.2.4 Bagaimanakah model sistem pembelajaran SD reguler?
1.2.5 Bagaimanakah macam- macam  model pembelajaran reguler anak SD?
1.2.6 Bagaimanakah tujuan pembelajaran reguler       ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui tentang sistem pendidikan di SD
1.3.2 Untuk mengetahui tentang model pembelajaran menurut para ahli
1.3.3 Untuk mengetahui tentang model pembelajaran secara umum
1.3.4 Untuk mengetahui tentang model sistem pembelajaran SD reguler
1.3.5Untuk mengetahui tentang macam- macam  model pembelajaran reguler anak SD
1.3.6 Untuk mengetahui tentang tujuan pembelajaran reguler










BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Pendidikan di Sekolah Dasar
Sistem Pendidikan adalah keseluruhan komponen pendidikan yang terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan. Sistem pendidikan di sekolah dasar adalah suatu keseluruhan antara komponen-komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu dan saling memepengaruhi untuk mencapai tujuan pendidikan dasar.
Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar.Di sekolah inilah anak didik mengalami proses pendidikan dan pembelajaran dan secara umum pengertian sekolah dasar dapat kita katakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dasar dan mendasari proses pendidikan selanjutnya. Pendidikan ini diselenggarakan untuk anak-anak yang telah berusia 7 tahun dengan asumsi bahwa anak seusia tersebut mempunyai tingkat pemahaman dan kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan dirinya.Pendidikan dasar memang diselenggarakan untuk memberikan dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi anak didik. Pendidikan dasar inilah yang selanjutnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas diri anak didik. 
2.2 Pengertian Model pembelajaran menurut para ahli
Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Model dipahami sebagai :(1) suatu tipe atau desain; (2) suatu deskripsi atau analogi yag dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan lansung diamati; (3) suatu sistem asumsi-asumsi, data-data dan interferensi-interferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu obyek atau peristiwa; (4) suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan   realitas yang disederhanakan; (5) suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner; dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan me-nunjukkan sifat bentuk aslinya.
Dengan demikian model pembelajaran dapat dipahami sebagai suatu desain yang melukiskan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan digunakan sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
2.3 Pengertian Model Pembelajaran Secara Umum
Model pembelajaran adalah suatu rangkaian atau kesatuan antara pendekata, strategi, metode, dan taktik dalam pembelajaran. Model pembelajaran dapat juga diibaratkan sebagai bungkus  dari keempat hal tersebut,  juga dikatakan sebagai desain yang menggambarkan proses rincian dan  penciptaan lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif  sehingga terjadi perubahan atau perkembangan diri.
2.4 Model Sistem Pembelajaran SD Reguler
Pengertian Program Reguler dalam kamus Bahasa Indonesia adalah teratur,  tetap atau biasa (Daryanto, 1997). Berdasarkan  pengertian tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan  kelas reguler adalah kelas yang secara umum diselenggarakan oleh sekolah-sekolah dengan sistem tetap atau biasa yang memberikan kepada siswa suatu metode pangajaran yang biasa dilaksanakan selama ini yang membutuhkan waktu tempuh pendidikan selama enam tahun di SD dan tiga tahun di SMP/SMU.
Pendidikan reguler merupakan pendidikan pada umumnya yang merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya unuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri , kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Unsur – unsur dalam pendidikan reguler antara lain:
1.      Peserta didik normal
2.      Kurikulum sama semua
3.      Tenaga guru tidak ada perbedaan
4.      Sarana dan prasarana seperti sekolah pada umumnya
5.      Lingkungan belajar dan proses pembelajarannya dirancang untuk anak normal.
Tujuan pendidikan reguler ini antara lain adalah:
1.      Kurikulum dapat disamakan
2.      Tidak ada perbedaan sarana dan prasarana.
Bentuk kelas reguler penuh adalah bentuk kelas yang berisi anak normal penuh dengan kurikulum yang sama tanpa perbedaan.
Kelebihan pendidikan reguler adalah sebagai berikut :
1.      Pendidikan reguler kurikulum sama seluruhnya.
2.      Pendidikan reguler semuaa siswanya normal.
3.      Guru tidak mesti berlatar pendidikan khusus anak berkebutuhan khusus.
4.   Sarana dan prasarananya tidak memerlukan biaya yang relative besar karena semuanya seragam
Kelemahan pendidikan reguler adalah:
1.  Peserta didik yang memiliki kelainan tidak dapat mengikuti pendidikan seperti peserta didik yang normal.
2. Sarana dan prasarana tidak memenuhi untuk peserta didik berkebutuhan khusus.
3. Gurunya tidak memiliki keprofesionalan menghadapi peserta didik berkebutuhan khusus.
Pembelajaran kelompok reguler adalah sistem pembelajaran yang menekankan pada kemampuan peserta didik melalui pertemuan secara langsung (tatap muka secara kontinyu) antara peserta didik dengan tutor baik secara perorangan maupun secara kelompok yang dilaksanakan secara intensif dalam rangka pencapaian standar kompetensi dan standar program paket C untuk mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional pendidikan kesetaraan.
Menurut Widyastono (2004) kelas reguler diselenggarakan berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku. Di dalam kelas reguler semua peserta didik atau siswa diberikan perlakuan yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan mereka. Jika dibandingkan dengan program akselerasi,  ada beberapa perbedaan komponen dalam program reguler, antara lain :
a) Masukan (input)
Jika siswa yang mengikuti program akselerasi harus memenuhi beberapa kualifikasi tertentu dan melalui beberapa tahapan seperti prestasi belajar, yaitu nilai raport dan nilai ujian akhir nasional (UAN); skor psikotes, meliputi IQ minimal 125, kreativitas, tanggung jawab tugas dan emotional quotient; kesehatan jasmani dan persetujuan orang tua, maka siswa program reguler ini tidak terlalu direpotkan dengan seleksi dan tahapan seperti pada kelas akselerasi. Jika ujian akhir nasional (UAN) siswa dari sekolah asal sudah memenuhi standar nilai di sekolah tertentu, maka siswa tersebut dapat mengikuti program reguler.
b) Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan belajarmengajar (Undang-undang no 20 tahun 1989, dalam Hamali, 2001). Kurikulum program yang dipakai program pembelajaran akselerasi dan program pembelajaran reguler di Indonesia tidak berbeda. Kedua program menggunakan kurikulum nasional yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional ditambah kurikulum lokal yang ditetapkan oleh masing-masing sekolah (Alsa, 2004). Jika kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak pada umumnya, maka untuk melayani kebutuhan pendidikan bagi anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,menurut Ward (dalam Munandar, 1999) perlu diusahakan pendidikan yang berdiferensiasi. Pendidikan berdiferensiasi yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan intelektual siswa dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi, yaitu kurikulum standar yang diimprovisasi lamanya waktu belajar sesuai dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa. Pelayanan pendidikan berdiferensiasi dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi dapat diimplementasikan.
c) Tenaga Kependidikan (guru) 
Guru yang unggul tidak hanya dibutuhkan oleh siswa akselerasi saja tetapi siswa reguler juga berhak dididik oleh guru yang unggul juga agar memperoleh pelayanan yang optimal karena guru merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan pendidikan. Bagi kelas reguler proses sosialisasi akan terlihat lebih luas karena di dalam kelas reguler siswa tidak hanya berkumpul dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yang relatif sama sehingga dapat saling mengisi kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, misal bagi siswa yang lebih pandai di dalam kelas dapat membantu teman-temannya yang kurang pandai. Namun tidak selamanya hubungan sosial di dalam kelas reguler dapat berjalan dengan lancar, bila di dalam kelas tersebut anak yang pandai dianggap atau merasa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi sehingga anak yang merasa kurang pandai menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya, maka hubungan sosial mereka dapat terganggu dan dapat menghambat proses sosialisasinya.
2.5 Macam- Macam  Model Pembelajaran Reguler Anak Sekolah Dasar 
Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran harus sesuai dengan materi dan tingkat pendidikan yang dihadapi. Jika guru mengajar pada tingkat SMP/MTS, maka model pembelajaran yang digunakan pada anak sekolah dasar juga berbeda. Hal ini dikarenakan karena kebutuhan informasi dan psikologis juga berbeda.Model pembelajaran anak sekolah dasar biasanya lebih bersifat menyenangkan dan sifatnya masih bermain. Contoh model pembelajaran anak sekolah dasar adalah PAKEMI, CTL, Collaborative Learning, Quantum Learning,Cooperative Learning dan Emotional Learning. 
1) Pakemi 
Pakemi adalah singkatan dari pendidikan aktif kreatif dan menyenangkan islami. Model pembelajaran ini menuntut anak dapat bersikap aktif dan kreatif dalam pembelajaran yang menyenangkan dan menambah nilai-nilai keislaman. Misalnya, belajar membaca guru menyiapkan teks membaca. Setiap anak mendapat satu paragraf. Kemudian, anak menempelnya pada kertas warna-warni dan membacanya. Kemudian, menjawab pertanyaan yang yang menyertai. Teks  yang dibaca dapat berhubungan dengan keislaman.
2) CTL
CTL atau Contekstual Teaching Learning adalah sebuah pembelajaran yang terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu kontruksivisme, inkuri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan penilaian. Metode ini menuntut anak berfikir kreatif dengan membangun sendiri materi yang dia dapatkan. CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalamai, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan begaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Metode ini dapat diterapkan pada pembelajaran IPA di sekolah dasar. Misalnya materi menentukan perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil. 
3) Metode Collaborative Learning
Metode Collaborative Learning atau belajar collaborative merupakan kegiatan kelompok yang bekerja sama dalam memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, seorang guru memberikan tugas kelompok berwawancara dengan  tokoh masyarakat.Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membagi peran dalam kelompok, misalnya ada yang bertugas membawa alat perekam, bertanya, dan mencatat hasilwawancara. Kedua, setelah mendapatkan hasilnya, semua anggota bertanggung jawab dalam laporan tersebut. 
Metode ini memiliki beberapa manfaat ,yaitu :
a. Meningkatkan pengetahuan anggota kelompok karena sering berinteraksi sesama anggota akan menambah penguasaan konsep.
b. Siswa akan belajar memecahkan masalah dalam kelompok.
c. Memupuk kebersamaan antar siswa.
4) Metode Quantum Learning
Metode Quantum Learning atau belajar kuantum merupakan metode yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah yang paling sulit dipecahkan disekolah, yaitu kebosanan siswa. Agus Nurwanto (2002) mengatakan bahwa metode ini merupakan penjelasan bagaimana cara belajar efektif sehingga mendapatkan hasil yang sama dengan kecepatan udara.Metode ini sudah terangkum dalam sebuah buku. Dalam buku tersebut disajikan cara-cara belajar efektif. Contoh dari metode ini adalah siswa diajak untuk mengetahui tipe  belajarnya. Metode ini harus disajikan guru dengan menarik dan menyenagkan sehingga siswa merasa nyaman. Metode ini sangat penting diterapkan pada awal pembelajaran. Untuk mengetahui daya serap anak dalam memperoleh informasi yang paling ceapat. Apakah tipe belajar visual atau auditorial.Hal ini penting bagi guru karena dapat menjadi landasan dalam menerangkan materi kepada murid. Jika mayoritas siswa tipe belajarnya adalah visual maka dalam menyampaikan materi guru dapat banyak menggunakan tampilan atau gambar yang menarik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal.
Metode ini mempunyai beberapa manfaat. Pertama, suasana kelas menyengkan sehingga siswa bersemangat dalam tipe belajar. Kedua, siswa dapat belajar sesuai gaya dan tipe masing-masing. Ketiga, meningkatkan konsentrasi siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal.
5) Metode Cooperative Learning 
Metode cooperative Learning atau belajar kooperatif, metode yang mengajak semua anggota kelompok untuk berperan aktif dalam menyelesaikan tugas tertentu sehingga tidak menimbulkan gejalaketergantungan pada anggota lain. 
Salah satu bentuk pembelajaran ini adalah jigsaw ahli. Dalam pembelajaran ini, siswa dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil. Setelah itu, diberi sebuah masalah yang berbeda tiap kelompoknya. Setelah dibahas dalam kelompok kecil, kemudian dipecah dan dipindah ke kelompok yang baru agar dapat saling bertukar informasi. Tiap anggota menyampaikan informasi sesuai dengan kelompok sebelumnya. Setelah itu, kembali ke kelompok kecil serta membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang telah diperoleh. 
Manfaat metode cooperative learning atau belajar kooperatif, yaitu:
a. Meningkatkan pengetahuan siswa,
b. Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar,
c. Meningkatkan hubungan sosial anak didik,
d. Siswa dapat tampil lebih mandiri karena tidak bisa bergantung pada anggota kelompok lain.
6) Belajar Emosional Learning
Emosi merupakan kata yang berasal dari movere kata kerja bahasa latin yang berarti “menggerakan,bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman 1995:7). Dalam makna paling harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai ‘setiap kegiatan atau pergolakan pikiran ,perasaan, nafsu setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap (Goleman 1995:410). Sedangkan pengertian emosional menurut Sudarso (Leni 1999) adalah : berakar dari kata emosi, diartikan sebagai suatu kecenderungan sikap yang emosi untuk melihat atau menafsirkan sesuatau yang dapat dilihat oleh indra mata atau fakta-fakta, kondisi perasaan yang berubah-ubah disertai perubahan-perubahan emosi terutama perubahan yang menimbulkan suatu gambaran yang bersifat khusus dan dapat disaksikan dari luar.
2.6 TUJUAN PEMBELAJARAN REGULER
Tujuan Pembelajaran Reguler :
a) Mengurangi keragaman kecepatan belajar dari peserta didik agar mencapai suatu tingkat pencapaian kompetensi 
b) Meningkatkan kualifikasi akademik peserta didik
c) Memberikan pelajaran secara reguler bagi mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan
d) Mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan bersifat sama untuk semua murid






BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pendidikan reguler merupakan pendidikan pada umumnya yang merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya unuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri , kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

3.2 Saran
Setelah mengetahui tentang model pembelajaran reguler maka sebagai pendidik harus bisa mempraktikkannya sesuai standar. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan maka dapat diminimalisir dengan usaha kreatif dari pendidik dan peserta didik.
















DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Syah, muhibbin.2006. psikologi belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Tri Anni, Chatarina.2006. Psikologi Belajar. Semarang : Unnes Press



Makalah Full Day School Sistem Pendidikan Di Sekolah Dasar

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Full Day School
Menurut etimologi, kata full day school berasal dari Bahasa Inggris. Terdiri dari kata full mengandung arti penuh, dan day  artinya hari. Maka full day mengandung arti sehari penuh. Full day juga berarti hari sibuk. Sedangkan school artinya sekolah. Jadi, arti dari full day school adalah sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang dilakukan mulai pukul 06.45-15.00. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi.
Sedangkan menurut terminologi atau arti secara luas, Full day school mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran serta pengembangan diri dan kreatifitas. Pelaksanaan  pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah mulai pagi hingga sore hari, secara rutin sesuai dengan program pada tiap jenjang pendidikannya. Dalam full day school, lembaga bebas mengatur jadwal mata pelajaran sendiri dengan tetap mengacu pada standar nasional alokasi waktu sebagai standar minimal dan sesuai bobot mata pelajaran, ditambah  dengan model-model pendalamannya. Jadi yang terpenting  dalam full day school adalah pengaturan jadwal mata pelajaran. Program ini banyak ditemukan pada sekolah tingkat dasar SD/MI swasta yang berstatus unggulan. Biasanya, sekolah tersebut tarifnya mahal dan FDS bagian dari program favorit yang “dijual” pihak sekolah.
Jika dilihat dari makna dan pelaksanaannya, full day school sebagian waktunya digunakan untuk program pelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini, Salim berrpendapat berdasarkan hasil penelitian bahwa belajar efektif bagi anak itu hanya 3-4 jam sehari (dalam suasana formal) dan 7-8 jam sehari (dalam suasana informal).
Metode pembelajaran full day school tidak melulu dilakukan di dalam kelas, namun siswa diberi kebebasan untuk memilih tempat belajar. Artinya siswa bisa belajar dimana saja seperti halaman, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.
2.2. Latar Belakang Munculnya Full Day Schooll
Full day school pada awalnya muncul pada awal tahun 1980-an di Amerika Serikat. Pada waktu itu full day school dilaksanakan untuk jenjang sekolahTaman Kanak-kanan dan selanjutnya meluas pada jenjang yang lebih tinggi mulai dari SD sampai dengan menengah atas.
Ketertarikan para orang tua untuk memasukkan anaknya ke full day school dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu karena semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka banyak yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun, meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah milik public (masyarakat umum), meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas para orang tua, serta kemajuan dan kemodernan yang mulai berkembang di segala aspek kehidupan. Dengan memasukkan anak mereka ke fullday school, mereka berharap dapat memperbaiki nilai akademik anak-anak mereka sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan sukses, juga masalah-masalah tersebut di atas dapat teratasi. Dan dalam hasil penelitian ini disebutkan bahwa anak yang menempuh pendidikan di fullday school terbukti tampil lebih baik dalam mengikuti setiap mata pelajaran dan menunjukkan keuntungan yang cukup signifikan.
Adapun munculnya system pendidikan full day school di Indonesia diawali dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel Islam. Dalam pengertian yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada system pembelajarannya. Namun faktanya sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang mahal, fasilitas yang lengkap dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-tenaga pengajar yang “professional”, walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin kualitas pendidikan yang dihasilkan. Term unggulan ini yang kemudian dikembangkan oleh para pengelola di sekolah-sekolah menjadi bentuk yang lebih beragam dan menjadi trade mark,  diantaranya adalah fullday school dan sekolah terpadu.
2.3. Sistem Pembelajaran Full Day School
Full Day School (FDS) menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
1)      Prestasi yang bersifat kognitif
Adapun prestasi yang bersifat kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan, mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain sebagianya. Konkritnya, siswa dapat menyebutkan dan menguraikan pelajaran minggu lalu, berarti siswa tersebut sudah dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat kognitif.
2)      Prestasi yang bersifat afektif
Siswa dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah bisa bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
3)      Prestasi yang bersifat psikomotorik
Yang termasuk prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal dan nonverbal, keterampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya,  maka si anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
Sebelum kita membahas tentang sistem pembelajaran FDS, tentunya kita perlu mengetahui tentang makna sistem pembelajaran itu sendiri. Sistem adalah seperangkat elemen yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun sistem pembelajaran adalah suatu sistem karena merupakan perpaduan berbagai elemen yang berhubungan satu sama lain. Tujuannya agar siswa belajar dan berhasil, yaitu bertambah pengetahuan dan keterampilan serta memiliki sikap benar. Dari sistem pembelajaran inilah akan menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah meningkat pengetahuan dan keterampilannya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik.
Adapun proses inti sistem pembelajaran FDS antara lain:
1)      Proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, tranformatif sekaligus intensif. System persekolahan dan pola fullday school mengindikasikan proses pembelajaran yang aktif dalam artian mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal baik dalam pemanfaatan sarana dan prasarana di lembaga dan mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif demi pengembangan potensi siswa yang seimbang.
2)      Proses pembelajaran yang dilakukan selama aktif sehari penuh tidak memforsir siswa pada pengkajian, penelaahan yang terlalu menjenuhkan. Akan tetapi, yang difokuskan adalah system relaksasinya yang santai dan lepas dari jadwal yang membosankan.
2.4. Faktor  Penunjang dan Penghambat Full Day School
2.4.1.      Faktor Penunjang Full Day School
Setiap sistem pembelajaran tentu memiliki kelebihan (faktor penunjang) dan kelemahan (faktor penghambat) dalam penerapannya, tak terkecuali sistem full day school. Adapun faktor penunjang dari pelaksanaan sistem ini adalah setiap sekolah memiliki tujuan yang ingin dicapai, tentunya pada tingkat kelembagaan. Untuk menuju kearah tersebut, diperlukan berbagai kelengkapan  dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satunya adalah sistem yang akan digunakan di dalam sebuah lembaga tersebut.
Diantara faktor-faktor pendukung itu diantaranya adalah kurikulum. Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kesuksesan suatu pendidikan dapat dilihat dari kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Faktor pendukung berikutnya adalah manajemen pendidikan. Manajemen sangat penting dalam suatu organisasi. Tanpa manajemen yang baik, maka sesuatu yang akan kita gapai tidak akan pernah tercapau dengan baik karena kelembagaan akan berjalan dengan baik, jika dikelola dengan baik.
Faktor pendukung yang ketiga adalah sarana dan prasarana. Sarana pembelajaran merupakan sesuatu yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar setiap hari tetapi mempengaruhi kondisi belajar. Prasarana sangat berkaitan dengan materi yang dibahas dan alat yang digunakan. Sekolah yang menerapkan full day school, diharapkan mampu memenuhi sarana penunjang kegiatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa.
  Faktor pendukung yang terakhir dan yang paling penting dalam pendidikan dalam SDM. Dalm penerapan full day school, guru dituntut untuk selalu memperkaya pengetahuan dan keterampilan serta harus memperkaya diri dengan metode-metode pembelajaran yang sekiranya tidak membuat siswa bosan karena full day school adalah sekolah yang menuntut siswanya seharian penuh berada di sekolah.
Faktor lain yang signifikan untuk diperhatikan adalah masalah pendanaan. Dana memainkan peran dalam pendidikan. Keuangan merupakan masalah yang cukup mendasar di sekolah karena dana secara tidak langsung mempengaruhi kualitas sekolah terutama yang berkaitan dengan sarana dan prasarana serta sumber belajar yang lain.
2.4.2.      Faktor Penghambat Full day school
Faktor penghambat merupakan hal yang niscaya dalam proses pendidikan, tidak terkecuali pada penerapan full day school. Faktor yang menghambat penerapan sistem full day school diantaranya :
Pertama, keterbatasan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan bagian dari pendidikan yang vital untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan sarana dan prasarana yang baik untuk dapat dapat mewujudkan keberhasilan pendidikan. Banyak hambatan yang dihadapi sekolah dalam meningkatkan mutunya karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Keterbatasan sarana dan prasarana dapat menghambat kemajuan sekolah.
Kedua, guru yang tidak profesional. Guru merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh profesionalitas guru. Akan tetapi pada kenyataannya guru mengahadapi dua yang dapat menurunkan profesionalitas guru. Pertama, berkaitan dengan faktor dari dalam diri guru, meliputi pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya pribadi, dan kerukunan kerja. Kedua berkaitan dengan faktor dari luar yaitu berkaitan denagan pekerjaan, meliputi manajemen dan cara kerja yang baik, penghematan biaya dan ketepatan waktu. Kedua faktor tersebut dapat menjadi hambatan bagi pengembangan sekolah.
2.5.   Kelebihan dan Kelemahan Full Day School
2.5.1.      Kelebihan
Setiap sistem tidak mungkin ada yang sempurna, tentu memiliki keunggulan dan kekurangan termasuk sistem full day school. Diantara keunggulan sistem ini adalah
·      Anak anak akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler.
·      Orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi)
·      Sistem Full day school memiliki kuantitas waktu yang lebih panjang daripada sekolah biasa.
·      Guru dituntut lebih aktif dalam mengolah suasana belajar agar siswa tidak cepat bosan.
·      Meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius.
·      Orang tua akan mempercayakan penuh anaknya ada sekolah saat ia berangkat ke kantor hingga ia pulang dari kantor
2.5.2.      Kelemahan
Sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah:
·      Siswa akan cepat bosan dengan lingkungan sekolah
·      Lebih cepat stress
·      Mengurangi bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga
·      Kurangnya waktu bermain
·      Anak-anak akan banyak kehilangan waktu dirumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya.

2.6.   Sekolah Yang Menerapkan Model Pembelajaran Full Day School
Beberapa lembaga yang mene­rapkan sistem pembelajaran fullday school antara lain;
1.      SMU Taruna Nusantara di Magelang
2.      SMU Plus Muthahhari di Bandung
3.      SMU Madania Parung Bogor
4.      Lembaga kursus bahasa asing di Pare Kediri
5.      UIN Malang (melalui program ma’had)  
6.      MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus).
Beberapa sekolah dasar yang menerapkan model pembelajaran full day school, sebagai berikut:
1.      SD Islam Terpadu Permata Bunda, Bawen Kabupaten. Semarang.





Ø Contoh Sekolah yang Menggunakan Model Pembelajaran Full Day School
Karakteristik Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Berprestasi & Berpekerti
Full day school mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran serta pengembangan diri dan kreatifitas yang meliputi ilmu umum dengan ilmu agama secara seimbang.
Karakteristik sistem pembelajaran Full Day School adalah Siswa selalu berprestasi dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar, baik itu untuk ilmu umum dan ilmu agama agar bisa dijalankan secara seimbang.
1.    Karakteristik Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Full Day School (FDS) menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
a) Prestasi yang bersifat kognitif
b) Prestasi yang bersifat afektif
c) Prestasi yang bersifat psikomotorik.
Pada prinsipnya, sekolah dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan dengan FDS-nya hendak memadukan ilmu umum dan agama, sebagai jawaban atas kegagalan yang dilakukan sekolah umum dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sehingga, dalam praktiknya, sekolah dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan melakukan pengembangan kurikulum dengan cara memadukan kurikulum pendidikan umum yang ada di Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), seperti pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, IPS, dan lain-lain, serta kurikulum pendidikan agama Islam yang ada di Kementrian Agama (Kemenag), ditambah dengan kurikulum dari Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah (Majlis Dikdasmen).
Bangunan keilmuan yang dikembagkan oleh model ini tidak dilihat secara dikotomis melainkan dilihat secara padu dan utuh (integral). Paradigma yang dibangun adalah bahwa kebenaran di jagad ini tidak akan lengkap hanya didekati oleh kerja nalar dan observasi yang disebut dengan kebenaran ilmiah. Selain itu ada kebenaran intuitif dan juga kebenaran wahyu. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan menginginkan penggalian kebenaran melalui sumber-sumber yang lebih komprehensif. Hal itu dapat ditemukan dengan cara memadukan berbagai sumber, baik yang bersifat ilmiah maupun yang dapat digali dari sumber kitab suci (al-Qur’an dan Hadits). Antara ilmu dan agama dilihat dan fungsikan secara padu, selain sama-sama untuk menggali kebenaran juga masaing-masing bersifat komplementer. Al-qur’an akan dapat dipahami secara lebih luas dan mendalam jika menyertakan ilmu dan sebaliknya ilmu akan berkembang jika mendapat inspirasi dari penuturan al-qur’an, yaitu bangunan keilmuan yang diharapkan mencerminkan sekolah Islam.
2.    Pengembangan Institusional Pendidikan Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Untuk meminimalkan dampak negatif, upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan full day school bagi perkembangan anak antara lain:
Pengembangan kurikulum dan pengelolaan sesuai dengan alokasi waktu, kebutuhan, dan perkembangan anak agar FDS dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Kurikulum dewasa ini didasarkan pada pemahaman bahwa ide anak-anak dapat membentuk/membangun pengetahuan mereka sendiri. Untuk itu, program-program belajar harus terus mempersiapkan anak-anak dengan program kurikulum yang direncanakan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan semua anak. Kurikulum untuk program belajar sekarang ini melakukan hal-hal berikut:
1) Memasukkan tujuan untuk dicapai dalam semua bidang, meliputi bidang sosial, emosi, kognitif, dan fisik supaya mampu mempersiapkan anak-anak unuk berperan sebagai warga Negara.
2) Menggarap perkembangan pengetahuan, pengertian, proses, dan keterampilan tidak sebagai fakta terpisah.
3) Berdasarkan sasaran nyata yang menantang, namun bisa dicapai.
4) Merefleksikan kebutuhan dan minat masing-masing anak dan kelompok.
5) Menghormati dan mendukung keragaman individu, budaya, dan bahasa.
6) Membangun pengetahuan di atas apa yang sudah diketahui anak dan mampu mengkonsolidasikan belajar mereka dan memajukan pencapaian konsep dan keterampilan baru
7) Memungkinkan integrasi di seluruh isi
8) Memenuhi standar yang diakui atas disiplin pelajaran yang relevan.
9) Melibatkan anak-anak secara aktif, sosial, fisik, dan mental.
10) Sangat lentur/fleksibel sehingga para guru dapat menyesuaikan diri dengan masing-masing anak atau kelompok.
Pembelajaran yang dilakukan pada FDS, waktu anak banyak terlibat dalam kelas yang bermuara pada produkktifitas yang tinggi dan siswa juga menunjukkan sikap yang lebih positif dan terhindar dari penyimpangan – penyimpangan karena keseharian berada di dalam kelas dan dalam pengawasan guru. Selain itu anak-anak jelas akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler, orang tua tidak akan merasa khawatir, karena anak-anak akan berada seharian di sekolah yang artinya sebagian besar waktu anak adalah untuk belajar, orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi), tentu saja akan meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius, obsesi orang tua akan keberhasilan pendidikan anak (karena mereka berpikir jika anak mau pandai harus dicarikan sekolah yang bagus, dan sekolah bagus itu adalah yang mahal) memiliki peluang besar untuk tercapai. Mungkin banyak lagi hal-hal ’positif’ lainnya yang tidak tersebut di sini. Jelas kondisi-kondisi tersebut akan muncul dan menjadi pilihan yang menjanjikan bagi anak dan orang tua.
Secara utuh dapat dilihat bahwa pelaksanaan system pendidikan full day school di SD Muhammadiyah 1 Bangkalan mengarah pada beberapa tujuan, antara lain:
Untuk memberikan pengayaan dan pendalaman materi pelajaran yang telah ditetapkan oleh diknas sesuai jenjang pendidikan. Memberikan pengayaan pengalaman melalui pembiasaan-pembiasaan hidup yang baik untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan pembinaan kejiwaan, mental dan moral peserta didik disamping mengasah otak agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sehingga terbentuk kepribadian yang utuh. Pembinaan spiritual Intelegence peserta didik melalui penambahan materi-materi agama dan kegiatan keagamaan sebagai dasar dalam bersikap dan berperilaku.


DAFTAR PUSTAKA
Hassan, N. 2013. FULLDAY SCHOOL (Model Alternatif Pembelajaran Bahasa    Asing). [Acessed:26/10/14]            Online:tadris.stainpamekasan.ac.id/index.php/jtd/article/view/105/209
Kuswandi, Iwan. 2012. Full Day School Dan Pendidikan Terpadu. [Acessed:        26/10/14] online:http://iwankuswandi.wordpress.com/full-day-school-dan       pendidikan-terpadu/
Mulyasari, Dewi. 2013. Sistem pendidikan full Day school. [Acessed: 26:10:14]    Online: http://dewimulyasari1989.blogspot.com/2013/06/sistem-pendidikan fullday-school.html
http://sdmuh1bangkalan.wordpress.com/2013/12/02/karakteristik-sistem-pembelajaran-full-day-school-sd-muhammadiyah-1-bangkalan/



Newer Posts Older Posts Home